Sabtu, 07 Januari 2012

kemiskinan

Kemiskinan Satu kata yang sangat sulit diartikan. Kata yang penuh dengan misteri kehidupan,yang tidak akan pernah kita ketahui kapan berakhirnya. kata yang membuat semua orang tidak ingin mendekatinya bahkan merasukinya kehidupannya.itulah dia “Kemiskinan”.

Kemiskinan itu seakan seperti sebuah penyakit yang menular yang sulit untuk diobati,yang seharusnya dimana penyakit itu bisa diobati tetepi karena ada sebuah penyakit yang bernama malas,maka dari itu sulit untuk disembuhkan. 

Bagi sebagian orang bahkan sangat sulit untuk menghindari kemiskinan itu sendiri. Bahkan kemiskinan itu sendiri tidak jarang telah menjadi turun temurun didalam keluarganya.Mungkin tidak hanya menjadi turun temurun melainkan sudah mendarah daging didalam dirinya.  

Di dunia yang serba canggih ini,terkadang kita tidak pernah memperhatikan kehidupan di sekitar kita.Kita hanya meperhatikan kehidupan kita saja,kehidupan yang kita jalani,kehidupan yang kita tempati,kehidupan yang penuh dengan kesenangan.Padahal disekitar kita mungkin sangat banyak orang-orang yang harus kita perhatikan,dimana orang tersebut sangat butuh perhatian dari kita.Khususnya orang-orang miskin.  

Mungkin sebagian dari kita masih berpikir bahwa orang-orang (miskin)tersebut yang berhak memperhatikan mereka hanyalah pemerintah saja.Kita tidak perlu ikut campur masalah pemerintah,karena itu sudah menjadi tugas pemerintah.Tanggapan itu sebenarnya sangat lah tidak pantas,memang benar bahwa orang-orang tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.Tetapi dimana rasa sosialisme kita sebagai Bangsa Indonesia ??.Apakah salah kalau kita membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian dari kita ?!  

Kalau kita hanya bisa berpangku tangan kepada pemerintah,maka masalah kemiskinan di Indonesia ini tidak akan pernah berakhir. Disini saya ingin menceritakan sedikit kehidupan salah seorang saudara kita yang masih dalam keadaan miskin. Mungkin cerita ini bisa membuat kita sadar bahwa masih banyak orang-orang miskin disekitar kita.

Sebut saja pak jafar.Beliau sehari-harinya bekerja serabutan.Kadang beliau bekerja sebagai kuli bangunan,kadang mencari barang bekas,terkadang memotong rumput dirumah-rumah,dan terkadang tidak bekerja sama sekali.Beliau hidup bersama kedua orang abangnya yang dalam kondisi tidak sehat (re: tidak waras).Dari hasil kerja serabutan tersebut,per harinya pak Jafar hanya menghasilkan 20.000-40.000.Walaupun penghasilan beliau tidak seberapa,tetapi bagi beliau bisa untuk makan sehari-hari saja sudah lebih dari cukup.  

Beliau tinggal disebuah gubuk tua yang sudah tidak layak huni dan hanya beralaskan tanah.Sebuah gubuk yang dikelilingi rumput-rumput liar yang besar yang tidak pernah di bersihkan.Sehingga membuat gubuk tersebut terlihat semakin tidak layak di huni.Gubuk ini sendiri sudah bertahun-tahun beliau tempati,tanpa ada perubahan sedikit pun.  

Ketika musim hujan datang,seketika gubuk itu akan dibanjiri air,dan lantainya pun menjadi kotor.Itu dikarenakan karena atapnya banyak yang bocor.sehingga dengan mudahnya air hujan masuk dan membanjiri gubuk tersebut.Walaupun demikian beliau masih bersyukur.karena Bagi beliau mempunyai pekerjaan dan tepat tinggal saja sudah lebih dari cukup. 

Inilah realita hidup yang sebenarnya, yang tidak bisa kita hindari dan tidak bisa berubah sekejab mata.perubahan itu sendiri tidak akan berubah dengan sendirinya,kecuali kalau kita sendirilah yang akan merubahnya.

Tingkat Kemiskinan Aceh Tidak Sebanding dengan Anggaran


 “Dilihat dari peringkatnya secara nasional, Aceh kini menduduki peringkat ke enam tertinggi (kemiskinan) di Indonesia, berada di bawah Nusa Tenggara Barat”.Selain masih tingginya angka kemiskinan, pendapatan perkapita Aceh juga masih rendah. pendapatan perkapita Aceh yang hanya Rp16,9 juta pertahun, masih jauh di bawah nasional, mencapai Rp20,3 juta perkapita.

Anggaran melimpah yang mencapai 8,9 trilyun yang dimiliki Aceh, ternyata tak mengubah provinsi ini bebas dari jeratan kemiskinan. Dari 33 provinsi di Indonesia, Aceh menduduki peringkat keenam sebagai wilayah termiskin di nusantara pada 2009.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan, dari 4,3 juta rakyat Aceh pada 2009, sekitar 21,8 persen diantaranya miskin.
Jumlah itu dinilai menurun, jika dibanding kemiskinan saat 2008 yang mencapai 23 persen warga Aceh. “Berkurang 66,8 ribu jiwa,” .

Sebelumnya, Maret 2009, BPS merilis, Aceh menduduki peringkat kelima dengan penduduk miskin di pedesaan terbanyak di Indonesia, setelah Gorontalo.
Penurunan ini, kata dia, erat kaitannya dengan perbaikan ekonomi nasional yang sedang berjalan dengan baik selama ini. Pada 2009, BI mengklaim ekonomi Indonesia tumbuh 4,3 persen, lebih besar dari prediksi sebelumnya sebesar 3,5 sampai 4 persen.

“Selama 2009, perkembangan kesejahteraan di Indonesia terus menunjukkan tren membaik,” ujarnya. Penduduk miskin di Indonesia, kata dia, juga turun menjadi 32,53 juta jiwa dari 34 juta orang pada 2008.

Sedangkan pada tahun  2011 Persentase penduduk miskin di Aceh sebesar 19,48 persen mengalami penurunan dibandingkan Maret 2010 sebesar 19,57 persen.
Persentase penduduk miskin didaerah perkotaan menurun sebesar 0,66 persen, sementara di daerah pedesaan terjadi peningkatan sebesar 0,14 persen. Hal ini disebabkan oleh karena kondisi perekonomian Aceh, Indeks Harga Konsumen, tingkat pengangguran terbuka dan Nilai Tukar Petani.
Kalau dilihat dari Pulau Sumatera, Provinsi Aceh nomor satu paling miskin diantara provinsi lain. Bahkan secara nasional penduduk miskin paling banyak masih di Pulau Jawa dan Sumatera, baru kemudian menyusul Papua, Sulawesi, Kalimantan dan Bali.
BPS mengatakan bahwa walaupun mereka belum menerima data penduduk miskin dari Jakarta,tetapi mereka dapat memastikan bahwa Provinsi Aceh nomor satu paling miskin di pulau Sumatra.

Hasil analisis The Globe Journal dari Badan Pusat Statitsik menyebutkan jumlah penduduk miskin selama enam bulan di Aceh bertambah. Pada Maret 2011, jumlah penduduk miskin sebanyak 894.081 orang dan pada September 2011 meningkat menjadi 900.019 orang.
Orang miskin di Aceh pada September 2011 paling banyak berada di pedesaan yaitu sebanyak 730.890 orang dibandingkan di perkotaan hanya 169.300 orang.

Untuk mengukur angka kemiskinan ini, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dan sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan  non makanan yang diukur dari sisi pengeluarannya.

Pengalaman Pertama menjadi Seorang Account Officer

Untuk menyelesaikan tugas matakuliah Introduction into Micro Finance, mahasiswa di berikan tugas untuk menjadi Account Officer (AO). Tentu sebelum menjadi seorang AO, kita harus mengetahui apa itu AO.
Account Officer atau yang disingkat menjadi AO adalah orang yang bertugas mencari nasabah, tentunya dengan kriteria yang telah di tentukan oleh Bank.

Lembaga Keuangan Syariah Baitul Qirad Darul Mizan adalah tempat dimana saya ditugaskan untuk menjadi seorang AO.
Perjalanan menjadi seorang AO tidak semudah yang di fikirkan banyak orang. Saat menghadapi masyarakat, tidak sedikit kesabaran yang harus kita "gunakan". Mulai dari pemahaman mereka tentang Lembaga Keuangan, ketertarikan mereka untuk menjadi nasabah, dan manfaat yang akan mereka dapat dari menabung.

Tahap awal adalah mencari nasabah dan menjelaskan kepada mereka apa itu Lembaga Keuangan Syariah Baitul Qirad Darul Miazan, dan mengajak mereka untuk menabung di dalamnya. Banyak sekali yang "alergi" pada saat diajak untuk bergabung ke LK ini. Mereka menganggap bahwa tidak ada bedanya LK ini dengan Bank konvensional, dan banyak dari mereka menabung di Bank konvensional.

Namun tidak berhenti sampai disini, setelah memberi pemahaman yang membuat mereka memehami apa yang terbaik bagi hidup mereka, akhirnya saya mendapat 5 nasabah.
Adapun yang menolak dengan mengatakan "saya malas untuk membuka tabungan". Saya tidak mengerti apa yang di fikirkan oleh orang tersebut sampai dia mengatakan tidak berminat membuka tabungan. Atau pun itu merupakan kalimat yang sekilas terlintas di dalam benaknya untuk mengusir saya. :D
Pengalaman menjadi AO telah membuka mata saya. Mulai dari banyaknya masyarakat yang sebenarnya tidak memperdulikan hidupnya dengan tidak "menyiapkan" simpanan mereka untuk beberapa tahun kedepan atau bahkan hanya untuk beberapa hari kedepan.
Peran Lembaga Keuangan tidak akan berjalan dengan baik apabila kita sebagai seseorang yang memahami tentang pentingnya Lembaga Keuangan tidak "membuka mata" masyarakat yang tidak "membantu" Lembaga Keuangan yang berniat membantu rakyat.

ini cerita yang dapat saya ceritakan dengan ditemani secangkir kopi panas.

Aset perusahaan penjaminan terkerek kredit UMKM

Meski jumlah perusahaan penjaminan di Indonesia masih sama, kinerja mereka sepanjang 2011 cukup kinclong. Biro Penjaminan dan Pembiayaan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mencatat, semua aspek keuangan di lembaga penjaminan meningkat.Umumnya, peningkatan itu karena penyaluran kredit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) semakin besar.

Bapepam-LK juga merinci, sebagian besar penjaminan mengalir ke sektor non-produktif alias multiguna, berjumlah Rp 49 triliun, turun 3,8% dibandingkan Desember 2010. Sementara, penjaminan ke sektor produktif, seperti usaha kecil menengah sekitar Rp 22,32 triliun, naik 40,89%.

Peningkatan itu tak lepas dari pertumbuhan penyaluran kredit UMKM, khususnya melalui program kredit usaha rakyat (KUR). Setiap penyaluran KUR, pemerintah melalui Jamkrindo harus memberikan penjaminan. Nilai penjaminan itu sebesar 10% dari penyaluran kredit.

Penyaluran KUR sepanjang 2011 mencapai Rp 27 triliun, tumbuh 69% ketimbang tahun 2010. Penyaluran itu juga melebihi target awal hanya Rp 16 triliun. “KUR dan pertumbuhan ekonomi mendorong kinerja perusahaan penjaminan,” papar Nanang Waskito, Direktur Penjaminan Perum Penjaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), Senin (2/1).

Bapepam-LK juga mencatat, lembaga penjaminan di Indonesia menginvestasikan dana mereka di deposito sebanyak 99,7% atau Rp 2,56 triliun. Sedangkan investasi ke portofolio lain, yakni obligasi dan sukuk ritel 0,2% atau Rp 5,2 miliar, serta investasi lain 0,1% atau Rp 3,14 miliar. Sayang, Bapepam LK tidak merinci hasil investasi itu.

Namun, pendapatan secara keseluruhan perusahaan penjaminan mencapai Rp 904,14 miliar, tumbuh 93,05%. Dari jumlah itu, yang menjadi laba bersih mencapai Rp 712,61 miliar, tumbuh 102%.
Meningkatnya pendapatan juga terdorong dari kenaikan kualitas penjaminan. Tercatat, potensi kredit penjaminan yang macet alias non-performing guarantee per November 2011 hanya 0,05%. Jumlah itu lebih kecil dari periode tahun 2010 sebesar 0,15%.

Ketut Indra Satya Dharma Putra, Direktur Jamkrida Bali Mandara mengatakan, meningkatnya kinerja perusahaan penjaminan juga karena suntikan modal. Jamkrida Bali misalnya, terus mendapatkan suntikan modal dari pemerintah. “Hingga akhir Oktober 2011, modal kami naik Rp 53 miliar,” ujarnya. Menurut aturan, perusahaan penjaminan hanya memiliki modal awal Rp 25 miliar.

Menurut Nanang, bisnis penjaminan tahun ini bakal tumbuh tinggi. “Minimal 15%,” kata Nanang. Mengingat, pemerintah tetap menggenjot KUR di 2012 dengan target Rp 30 triliun.

Apalagi, sejumlah perusahaan juga berekspansi. Contohnya, Jamkrida Bali akan memperbesar penjaminan dengan menggaet lembaga perkreditan desa (LPD). Saat ini terdapat empat perusahaan penjaminan, yakni Jamkrida Jatim, Perum Jamkrindo, Jamkrida Bali Mandara, dan PT Penjamin Kredit Pengusaha Indonesia (PKPI).

Sumber : http://smeindonesia.com/

Rabu, 04 Januari 2012

Profil Desa Lamlagang

Monografi Desa Lamlagang
Desa                                                : Lamlagang
TKT Perkembangan Desa                 : Swasembada
Kecamatan                                          : Banda Raya
Kota                                                     : Banda Aceh

Keadaan Alam
Luas Desa
80 Ha
Sawah
25 Ha
Kebun
  5 Ha
Perumahan
50 Ha
Batas Desa
Utara
Neusu Aceh
Timur
Ateuk Diah T
Selatan
Lhong cut
Barat
Geuceu komplek

Penduduk
Laki-laki
2341 Jiwa
Perempuan
2198 Jiwa
Jumlah Penduduk
4539 Jiwa



Mata Pencaharian
Laki – laki
Perempuan
Petani
16
-
Nelayan
10
-
Pedagang
115
100
Pegawai Negeri
475
450
Abri
40
-
Pensiunan
100
30
Karyawan
380
255
Pertukangan
212
-
®                      Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa perioritas penduduk Lamlagang mata pencahariannya adalah pegawai negeri. (sumber Tahun 2002).


Pendidikan
Laki – laki
Perempuan
Buta Aksara
4
9
Tidak tamat SD
150
150
Tamat SD
300
212
Tamat SLTP
300
373
Tamat SLTA
400
350
Tamat Akademi
105
110
Tamat Per. Tinggi
200
125
Jumlah
1459
1329
®    Data di atas merupakan data pada Tahun 2002. Dan pada saat ini angka pendidikan tersebut terus berubah dan masyarakat di Desa Lamlagang semakin banyak yang menamatkan Perguruan Tinggi.

Agama
Laki – laki
Perempuan
 Islam
1857
1878
Budha
       3
       3
Jumlah
1860
1881
®    Data Agama diatas adalah data pada Tahun 2002.

Stuktur Organisasi Pemerintahan Gampong Lamlagang
Kecamatan Banda Raya Kota Banda Aceh


                                                        
Tuha Peut dan Tuha Lapan
Kepala Urusan Keluarga
Masna Abdullah
Kepala Urusan Umum
Faisal Budiman
Kepala Urusan Pemerintahan
Marwan Yusuf
Kepala Urusan Kesra
Firdaus Jalil
Kepala Umum Pembangu-nan

Syahriz-al

Kepala Dusun II
Raja Reubah

Hamzah Daud
Kepala Dusun I
Raja Jalil

Ilyas M.Amin
Kepala Dusun III
Pang 5 Nyak Raja

Mukhtar Kasem
Kepala Dusun IV
Pang 5 Hasan

Ikhfan Budiman
Sekretaris
Yuhendri Husen
  
Profil Kemiskinan
1.    Penduduk  Miskin (penerima zakat)
Miskin
180 Jiwa
Fakir
134 Jiwa


2.      Insfrastuktur
Rumah Batu
600
Rumah Kayu
40
Pabrik Es
1
Toko
50
Warung
20
Gedung / Kantor
3
Mesjid
2
Langgar
3
Puskesmas
2
Poskamling
4









Sarana Perhubungan
Jalan Aspal
5,5 Km
Jalan Batu
5 Km
Jembatan Beton
12 Buah
Sarana Pendidikan
Play group
1 Unit
TK
1 Unit
SD
2 Unit
SMP
2 Unit
SMA
1 Unit
Perguruan Tinggi
1 Unit



® Data    Sarana    perhubungan   adalah
data Tahun 2002. Pada kenyataannya sekarang di  Desa  Lamlagang  Jalanan
berbatu sulit dijumpai.


3.            Sanitasi
Penyehatan Lingkungan
Sumur Pribadi
462 Unit
Wc Pribadi
440 Unit
Sanitasi
4,5 Km
Air PDAM
255
           
®     Data Penyehatan lingkungan ini di ambil pada Tahun 2002. Pada kenyataannya Sanitasi, wc pribadi, air PDAM dapat dijumpai di setiap rumah warga Desa Lamlagang.

4.         Kesehatan
®     Di Desa Lamlagang tidak ada warga yang terkena penyakit yang disebabkan oleh tidak bersihnya air ataupun lingkungan hidup.

 Peran Pemerintah
o   PNPM
Dana yang diperoleh oleh Desa Adalah Rp 150.000.000. Namun yang telah direalisasikan baru Rp 45.000.000.
o   Raskin
Di Desa Lamlagang yang memperoleh bantuan dari Pemerintah ini 3 jiwa.
o   Dana Gampong
Dana Gampong yang diperoleh sebesar Rp 50.447.281.
o   JKA
o   Jamkesmas
o   Aspirasi via PU (DPR)
Dana yang diperoleh dari PU ini sebesar Rp 140.000.000, yang digunakan khusus untuk pembangunan mesjid.



Kesimpulan
Dari segi masyarakat, Desa Lamlagang masi terdapat penduduk yang miskin bukan sangat miskin, namun mereka terus memberikan pendidikan kepada anaknya, mereka terus meningkatkan taraf kehidupannya dengan terus bekerja.
Dari segi Peran Pemerintah, pemerintah telah memberikan anggarannya kepada Desa Lamlagang seperti yang seharusnya. Dan penduduk di Desa Lamlagang juga meningkatkan ekonomi desanya dengan bergabung dan peran aktif di dalam Koperasi, membuka warung, dll.