Kemiskinan Satu kata yang sangat sulit diartikan. Kata yang penuh dengan misteri kehidupan,yang tidak akan pernah kita ketahui kapan berakhirnya. kata yang membuat semua orang tidak ingin mendekatinya bahkan merasukinya kehidupannya.itulah dia “Kemiskinan”.
Kemiskinan itu seakan seperti sebuah penyakit yang menular yang sulit untuk diobati,yang seharusnya dimana penyakit itu bisa diobati tetepi karena ada sebuah penyakit yang bernama malas,maka dari itu sulit untuk disembuhkan.
Bagi sebagian orang bahkan sangat sulit untuk menghindari kemiskinan itu sendiri. Bahkan kemiskinan itu sendiri tidak jarang telah menjadi turun temurun didalam keluarganya.Mungkin tidak hanya menjadi turun temurun melainkan sudah mendarah daging didalam dirinya.
Di dunia yang serba canggih ini,terkadang kita tidak pernah memperhatikan kehidupan di sekitar kita.Kita hanya meperhatikan kehidupan kita saja,kehidupan yang kita jalani,kehidupan yang kita tempati,kehidupan yang penuh dengan kesenangan.Padahal disekitar kita mungkin sangat banyak orang-orang yang harus kita perhatikan,dimana orang tersebut sangat butuh perhatian dari kita.Khususnya orang-orang miskin.
Mungkin sebagian dari kita masih berpikir bahwa orang-orang (miskin)tersebut yang berhak memperhatikan mereka hanyalah pemerintah saja.Kita tidak perlu ikut campur masalah pemerintah,karena itu sudah menjadi tugas pemerintah.Tanggapan itu sebenarnya sangat lah tidak pantas,memang benar bahwa orang-orang tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.Tetapi dimana rasa sosialisme kita sebagai Bangsa Indonesia ??.Apakah salah kalau kita membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian dari kita ?!
Kalau kita hanya bisa berpangku tangan kepada pemerintah,maka masalah kemiskinan di Indonesia ini tidak akan pernah berakhir. Disini saya ingin menceritakan sedikit kehidupan salah seorang saudara kita yang masih dalam keadaan miskin. Mungkin cerita ini bisa membuat kita sadar bahwa masih banyak orang-orang miskin disekitar kita.
Sebut saja pak jafar.Beliau sehari-harinya bekerja serabutan.Kadang beliau bekerja sebagai kuli bangunan,kadang mencari barang bekas,terkadang memotong rumput dirumah-rumah,dan terkadang tidak bekerja sama sekali.Beliau hidup bersama kedua orang abangnya yang dalam kondisi tidak sehat (re: tidak waras).Dari hasil kerja serabutan tersebut,per harinya pak Jafar hanya menghasilkan 20.000-40.000.Walaupun penghasilan beliau tidak seberapa,tetapi bagi beliau bisa untuk makan sehari-hari saja sudah lebih dari cukup.
Beliau tinggal disebuah gubuk tua yang sudah tidak layak huni dan hanya beralaskan tanah.Sebuah gubuk yang dikelilingi rumput-rumput liar yang besar yang tidak pernah di bersihkan.Sehingga membuat gubuk tersebut terlihat semakin tidak layak di huni.Gubuk ini sendiri sudah bertahun-tahun beliau tempati,tanpa ada perubahan sedikit pun.
Ketika musim hujan datang,seketika gubuk itu akan dibanjiri air,dan lantainya pun menjadi kotor.Itu dikarenakan karena atapnya banyak yang bocor.sehingga dengan mudahnya air hujan masuk dan membanjiri gubuk tersebut.Walaupun demikian beliau masih bersyukur.karena Bagi beliau mempunyai pekerjaan dan tepat tinggal saja sudah lebih dari cukup.
Inilah realita hidup yang sebenarnya, yang tidak bisa kita hindari dan tidak bisa berubah sekejab mata.perubahan itu sendiri tidak akan berubah dengan sendirinya,kecuali kalau kita sendirilah yang akan merubahnya.